otak mampir

Jumat, 15 Oktober 2010

eksploitasi anak?

Apa itu eksploitasi anak? Apa saja yang termasuk tindakan eksploitasi anak? Saya juga kurang tau dan gak rajin buat bongkar kamus untuk menggali definisinya. Hehe…

Seseorang teman pernah melontarkan kalimat seperti ini kepada saya ketika melihat sebuah tayangan iklan yang menampilkan beberapa anak kecil yang bertingkah sangat lucu: “Hmm.. anak kecil memang menjual..”

Sekarang (dan mungkin dari dulu) beberapa iklan produk tertentu pasti menggunakan anak kecil (usia 0-7 tahun) sebagai model iklan, misalnya untuk produk susu, pakaian anak, biskuit anak, dan produk lainnya yang memang mempunyai target marketnya anak-anak. Bagaimana audience tidak gemas ketika melihat berbagai ekspresi yang diekspos di dalam iklan tersebut, tertawa renyah, tangis tersedu-sedu, loncat-loncatan, berenang, bermain-main dengan teman kecil lainnya, pada saat mereka menggunakan pakaian orang dewasa yang kebesaran, atau bahkan.. ketika mereka bersuara saja sudah membuat kita tertawa geli dan berkata: “iiiiihhh, lucunyaaaa…”. Berasa pengen punya anak kayak yang tipi, deh! Haha..

Ternyata, gak hanya iklan saja yang menawarkan tingkah lucu para anak kecil. Di dalam film pun seperti itu, apalagi kalau di sinetron-sinetron. Mama saya suka geleng-geleng sendiri kalau ada adegan di sinetron yang menampilkan seorang anak yang kira-kira masih berumur 9 bulan, menangis dengan serunya. “Aduuuuhh, itu anak siapa, coba?! Kasihan banget, dipake buat nyari duit sampai nangis jejeritan gitu..”

Intermezzo dikit. Saya pernah menampilkan beberapa anak kecil di dalam video pendek saya. Apakah saya melakukan eksploitasi terhadap mereka? Mudah-mudahan saya tidak tergolong sebagai pelaku eksploitasi anak. Sebelum saya mengajak mereka bermain di video tersebut saya menawarkan langsung kepada mereka dan juga orangtuanya. Mereka sih mau-mau aja. “asikkk! Ntar difoto sama mba gandes!” (ya, di“foto” itu maksud mereka adalah di rekam :p). Orangtua mereka pun iya-iya aja kalau anak mereka tidak keberatan. Para orang tua juga menanyakan nanti anak mereka disuruh ngapain aja, (saya benar-benar meyakinkan kepada mereka bahwa saya tidak akan mengajak mereka memproduksi video bokep! Haha). Bahkan, mereka juga menanyakan apa saja yang harus dipersiapkan biar mereka juga bisa ikut membantu.

Ok. Balik lagi soal kalimat yang dikatakan oleh mama saya. “dipake buat nyari duit”. Itu kalimat yang membuat saya berpikir (Oh, terimakasih Tuhan! Ternyata saya masih bisa mikir! :p), apa bedanya anak-anak yang tampil di televisi dengan anak-anak yang berada di jalanan. Toh, sama-sama mereka juga berorientasi mencari uang. Kita seringkali berkoar-koar “stop eksploitasi anak!” lalu, yang ada di otak kita ya semacam anak-anak yang ngamen di pinggir jalan atau ngemis di lampu merah.

Ada yang berargumen “Mereka (anak-anak yang ngamen dan ngemis di jalanan) tuh dipekerjakan orang tuanya. Paling-paling, ibu mereka di rumah trus, anak-anaknya disuruh cari makan di jalan.” Okelah, saya juga setuju terhadap argument tersebut, meskipun saya tidak dapat melakukan generalisasi. Siapa tau, mereka memang ikhlas menjalani itu untuk menghidupi keluarganya. Lagipula, untuk sekolah saja mereka tidak punya cukup uang. Daripada mencuri, lebih baik ngamen. Lalu, apakah ada yang menjamin juga bagi anak-anak yang “dipekerjakan” di sinetron/iklan/film tidak “disuruh” oleh orangtuanya untuk bekerja menjadi artis?

Ya, semua kemungkinan tentu saja ada. Untuk kasus anak-anak yang menjadi artis, bisa saja karena mereka sendiri yang mau menjalani pekerjaan sebagai artis dan menerima tawaran kontrak ini-itu berdasarkan kemauan mereka sendiri. Tapi untuk kasus anak-anak di bawah lima tahun yang ikut nampang di sinetron dan harus sampai nangis jejeritan, saya sangat tidak tega. Mungkin ada yang bilang bahwa saya terlalu naïf, tapi.. tidak apa-apa. Saya memang tidak tega melihat seorang anak kecil yang menangis hanya karena tuntutan skenario. “Anak orang kok, dibuat maenan..” Apalagi kalau dalam proses produksinya harus take berkali-kali. Haduh-haduh, setiap air mata yang menetes itu bakal dibayar berapa ya? Nah, kalau anak sekecil itu, apakah memang dia mau dijadikan figuran dari sebuah peran di sinetron? Masa, sih anak itu udah bisa baca tawaran kontrak trus bilang sama mama: “Hmm, oke deh, ma! Aku mau nampang di tipi! Tolong ditandatanganin ya, ma.. Aku kan belum belajar buat tandatangan. Aku kan biasanya cap kaki, kayak waktu periksa di posyandu kemarin.”

Nah, kalau gini kan jadinya gak ada bedanya, antara yang bekerja di pinggir jalan maupun yang di sinetron. Yang membedakan hanya ranah pekerjaannya. Unsur eksploitasinya? Saya pikir, sama-sama memprihatinkan. Mungkin, sebaiknya kita lebih peka lagi bahwa jaman sekarang ini eksploitasi anak bisa dilakukan dengan segala macam cara, gak cuman hal yang itu-itu aja. (jadinya kalau buat ILM, yang ditampilin gak cuman anak-anak yang ada di pinggir jalan aja. Anak-anak yang di depan kamera pun bisa jadi salah satu korban eksploitasi anak). Bagaimana menurut anda? Mari berbagi cerita! Wasalam.